Universitas Nusa Mandiri (UNM) menerima kunjungan benchmarking dari Universitas Multi Data Palembang dalam rangka berbagi praktik baik pengelolaan akademik, peningkatan mutu, serta penguatan tata kelola institusi.
Rektor UNM, Prof. Dwiza, menyambut langsung rombongan MDP dan menegaskan komitmen UNM dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi. “Selamat datang di UNM. Kami terbuka untuk berbagi praktik baik, termasuk program Gerakan Bersama Indonesia Mengabdi (GBIM). Kami juga menargetkan capaian akreditasi unggul agar dapat membuka peluang beasiswa bagi mahasiswa magister dan doktor,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor MDP, Dr. Yulistia, menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan serta ketertarikan untuk mengadopsi praktik unggul dari UNM. “Kami melihat banyak keunggulan di UNM yang sudah terimplementasi dengan baik. Harapannya, kami bisa mengikuti ritme tersebut dan mengadaptasikannya di institusi kami,” ungkapnya.
Dalam sesi diskusi, berbagai topik strategis dibahas, mulai dari masa berlaku akreditasi hingga implementasi Outcome-Based Education (OBE). Prof. Dwiza menegaskan pentingnya percepatan pengajuan akreditasi. “Jika pengajuan sudah dilakukan sebelum masa berlaku habis, maka perpanjangan akan berjalan otomatis. Kami sarankan untuk segera mengajukan, terutama jika program studi sudah memiliki lulusan,” jelasnya.
Pada aspek kurikulum, perwakilan UNM, Bu Sukma, menjelaskan bahwa penyusunan visi keilmuan dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) harus selaras dengan arah institusi. “Visi keilmuan sebaiknya mengacu pada renstra perguruan tinggi dan fakultas. Sementara di program studi lebih fokus pada misi dan keilmuan yang diturunkan hingga ke CPL dan CPMK,” paparnya. Ia juga menambahkan bahwa pengukuran CPL dilakukan secara langsung hingga level pertemuan dengan dukungan sistem SIMBKOBE. Selain itu, UNM menerapkan model pembelajaran 3+1. “Tiga tahun di kampus dan satu tahun kegiatan di luar seperti magang, riset, atau capstone project, karena tujuan akhir lulusan adalah siap bekerja,” tambah Pak Arif.
Terkait kerja sama dengan industri, Pak Anton menjelaskan bahwa kegiatan seperti magang, kerja praktik, dan capstone project dapat menjadi bentuk kolaborasi yang sah. “Tidak selalu harus melalui MoU formal, namun yang terpenting adalah kelengkapan dan validitas dokumen sesuai standar akreditasi,” jelasnya.
Dalam diskusi lanjutan, Bu Nita menambahkan bahwa pengabdian kepada masyarakat juga dapat menjadi bagian dari kerja sama institusi. “PkM bisa menjadi bentuk kolaborasi yang terukur selama memiliki perencanaan dan luaran yang jelas,” ujarnya.
Pada aspek sumber daya manusia, khususnya tenaga laboran, dijelaskan bahwa pengelolaan berada di bawah Unit Pengelola Program Studi (UPPS). “Laboran merupakan tenaga profesional yang mendukung kegiatan akademik dan dikelola secara struktural, terpisah dari dosen namun tetap terintegrasi dengan program studi,” jelas Pak Anton.
Sementara itu, pada aspek penjaminan mutu, BPM menekankan pentingnya Audit Mutu Internal (AMI) serta penggunaan data yang sahih. “Setiap data harus dapat ditelusuri dan tervalidasi, termasuk keterkaitan antara laporan Beban Kerja Dosen (BKD) dengan evaluasi kinerja,” ungkapnya.
Diskusi juga mencakup tugas akhir mahasiswa, sertifikasi kompetensi, serta tracer study sebagai bagian dari evaluasi berkelanjutan. “Di UNM, mahasiswa diwajibkan mengisi tracer study sebelum wisuda sebagai bagian dari continuous improvement,” tambah perwakilan UNM.
Sebagai penutup, disampaikan rencana kegiatan internasional IEEE YESIST12 Indonesia 2026 sebagai bentuk komitmen UNM dalam mendorong inovasi dan kolaborasi global. Kegiatan benchmarking ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara UNM dan MDP dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berkelanjutan.

